Selasa, 12 Agustus 2014

Love or Lust ?

Tulisan singkat ini saya buat bukan karena saya dalam keadaan galau berat atau mungkin sementara mengalami penyakit bipolar seperti seorang Marshanda, tapi saya menuliskannya karena saya cukup prihatin dengan kondisi kaum muda saat ini, dimana sebenarnya kita seringkali telah tertipu dengan nafsu yang bersembunyi dibalik "topeng" cinta atau nafsu berkedok cinta. Bagian ini bagi saya penting untuk kita sadari, khususnya untuk para kaum hawa yang saya kasihi, dimana merekalah yang seringkali menjadi korban percintaan.
Entah sudah berapa banyak lagu bertemakan cinta telah digubah dan entah berapa banyak puisi tentang cinta yang telah ditulis untuk menggambarkan kata cinta itu. Namun pertanyaannya adalah "Apakah cinta itu sebenarnya" ? Tentunya seorang rohaniawan akan berbeda dengan seorang tukang kayu ketika mereka mencoba untuk menjelaskan atau mendefinisikan tentang cinta, dan bahkan setiap orang akan berbeda dalam menjelaskan arti cinta yang sebenarnya. Saya merasakan bahwa cinta dan nafsu adalah dua hal yang berbeda, makanya saya rasa kita perlu membedakan cinta sejati dan cinta palsu (nafsu).
Kamus mendefinisikan bahwa cinta adalah rasa suka, rasa tertarik atau perasaan sangat sayang, sedangkan nafsu adalah dorongan kuat, keinginan atau kecenderungan untuk melakukan sesuatu yang buruk. Munculnya cinta merupakan suatu proses. Proses cinta melibatkan panca indera seperti penglihatan, pendengaran, penciuman dan perabaan yang diproses dalam pikiran dan perasaan mulai dari ketertarikan, rasa suka atau senang, dan ini disebut jatuh cinta (fall in love). Dari bagian proses cinta ini, sebenarnya cinta dan nafsu berangkat dari titik yang sama yaitu melibatkan panca indera (fisik) dan kemudian muncul rasa ketertarikan atau rasa suka, akan tetapi ketika masuk pada tahap jatuh cinta (fall in love) maka cinta dan nafsu akan menjadi berbeda arah. Perbedaan arah itu akan terlihat dengan sendirinya, dimana cinta palsu menginginkan hubungan/pacaran terikat, berduaan, bercumbuan, dan berorientasi pada seks, bersenang-senang yang telah melewati batas. Sedangkan cinta sejati menjalin pertemanan khusus (pacaran) tapi tidak terikat, komitmen menjaga/menghormati kekudusan, dan membangun hubungan yang saling memulihkan dan saling mendukung sesama.
Kita memerlukan sebuah ujian agar kita dapat membedakan antara cinta dan nafsu. Ujian itu ialah ujian kesabaran. Cinta dan nafsu akan teruji oleh waktu, sebab cinta sejati membutuhkan sebuah proses yang tidak singkat melainkan membutuhkan waktu yang cukup panjang dan itu membutuhkan kesabaran, sedangkan nafsu akan hilang atau pudar ketika nafsu itu telah dipuaskan dan telah terpenuhi keinginannya. 
Hari-hari ini saya sangat menyayangkan bahwa begitu banyak kaum muda yang telah tertipu oleh nafsu, dimana mereka memandang bahwa nafsu adalah juga cinta sejati. Sedih hati saya ketika melihat dan mendengar mereka mengatasnamakan cinta ketika itu sebenarnya adalah nafsu, mereka tidak menyadari bahwa nafsu akan berunjung pada malapetaka, karena nafsu itu akan membawa kita pada kekecewaan dan penderitaan.
Saya berpesan pada mereka yang telah, sedang atau akan jatuh cinta agar mencintai bukan dengan nafsu tetapi mencintai dengan cinta sejati yang berangkat dari hati yang tulus dan murni.  True love brings peace...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar