Kamis, 21 Agustus 2014

Kalah 3x dan Malu 3x

Bersyukur akhirnya usai sudah sengketa pemilu presiden 2014, proses yang menurut saya pribadi adalah proses yang cukup menguras tenaga maupun emosi bagi pihak pemohon, termohon, terkait dan apalagi para hakim MK.
Tadi malam setelah MK memutuskan bahwa seluruh dalil dari pihak pemohon ditolak dan secara tidak langsung mengukuhkan Jokowi-JK sebagai presiden terpilih, saya kembali mengingat perjalan proses pemilu presiden selama ini, khususnya sejak tanggal 9 Juli sampai tanggal 21 Agustus kemarin. Saya melihat ada begitu banyak hal yang bisa kita dapatkan sebagai pembelajaran untuk proses demokrasi di Indonesia kedepan. Namun, satu pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya adalah bagaimana perasaan Prabowo ?
Jujur saya sebenarnya diawal sangat menghormati dan sedikit mengagumi Prabowo sebagai sosok negarawan yang baik. Akan tetapi setelah melihat bagaimana sikap Prabowo semenjak tanggal 9 Juli, sikap hormat dan sedikit kagum saya kepada beliau sedikit mulai berkurang karena melihat bagaimana beliau menyikapi hasil pemilu. Memang benar hasil pemilu harus jujur dan adil, namun juga diperlukan sikap sadar diri dan rendah hati dalam menyikapi hasil pemilu. Saya heran dengan beliau yang pada awalnya mengatakan akan menerima hasil pemilu apabila itu adalah kehendak rakyat, tetapi pada akhirnya beliau sangat sulit menerima kekalahan.
Saya rasa dengan sikap yang seperti itu sebenarnya Prabowo secara tidak langsung telah membuat dirinya menjadi bahan tertawaan oleh banyak orang. Beliau sangat menunjukkan bahwa dirinya sangat ingin jadi presiden, namun kenyataannya lebih banyak rakyat Indonesia yang tidak menginginkan beliau untuk menjadi presiden, dan hal itu mungkin tidak disadari oleh beliau.
Secara pribadi saya menilai kekalahan Prabowo dalam pemilu presiden 2014 adalah tiga 3 kali, yaitu pada saat hasil quick count, hasil real count KPU dan hasil keputusan MK. Sebenarnya jika dari awal yaitu pada saat hasil quick count diumumkan Prabowo sudah mengakui kekalahannya, maka kekalahan itu hanya ada 1 kali, namun sayang dia menolak hasil quick count (tidak menerima kekalahan) dan kemudian meminta menunggu hasil dari KPU. Akan tetapi sebelum hasil KPU dibacakan beliau kembali secara tidak langsung tidak menerima kekalahan dan memutuskan untuk menarik diri dari perhitungan KPU dan akan membawanya ke MK. Namun apa yang terjadi ? MK juga memutuskan bahwa beliau memang kalah dan ini adalah kekalahan ke 3 Prabowo. Bayangkanlah seperti apakah perasaan Prabowo setelah beliau kalah 3 kali dalam pemilu 2014 ini?  jawaban singkat dari saya adalah malu 3 kali.  ZAG

Selasa, 12 Agustus 2014

Love or Lust ?

Tulisan singkat ini saya buat bukan karena saya dalam keadaan galau berat atau mungkin sementara mengalami penyakit bipolar seperti seorang Marshanda, tapi saya menuliskannya karena saya cukup prihatin dengan kondisi kaum muda saat ini, dimana sebenarnya kita seringkali telah tertipu dengan nafsu yang bersembunyi dibalik "topeng" cinta atau nafsu berkedok cinta. Bagian ini bagi saya penting untuk kita sadari, khususnya untuk para kaum hawa yang saya kasihi, dimana merekalah yang seringkali menjadi korban percintaan.
Entah sudah berapa banyak lagu bertemakan cinta telah digubah dan entah berapa banyak puisi tentang cinta yang telah ditulis untuk menggambarkan kata cinta itu. Namun pertanyaannya adalah "Apakah cinta itu sebenarnya" ? Tentunya seorang rohaniawan akan berbeda dengan seorang tukang kayu ketika mereka mencoba untuk menjelaskan atau mendefinisikan tentang cinta, dan bahkan setiap orang akan berbeda dalam menjelaskan arti cinta yang sebenarnya. Saya merasakan bahwa cinta dan nafsu adalah dua hal yang berbeda, makanya saya rasa kita perlu membedakan cinta sejati dan cinta palsu (nafsu).
Kamus mendefinisikan bahwa cinta adalah rasa suka, rasa tertarik atau perasaan sangat sayang, sedangkan nafsu adalah dorongan kuat, keinginan atau kecenderungan untuk melakukan sesuatu yang buruk. Munculnya cinta merupakan suatu proses. Proses cinta melibatkan panca indera seperti penglihatan, pendengaran, penciuman dan perabaan yang diproses dalam pikiran dan perasaan mulai dari ketertarikan, rasa suka atau senang, dan ini disebut jatuh cinta (fall in love). Dari bagian proses cinta ini, sebenarnya cinta dan nafsu berangkat dari titik yang sama yaitu melibatkan panca indera (fisik) dan kemudian muncul rasa ketertarikan atau rasa suka, akan tetapi ketika masuk pada tahap jatuh cinta (fall in love) maka cinta dan nafsu akan menjadi berbeda arah. Perbedaan arah itu akan terlihat dengan sendirinya, dimana cinta palsu menginginkan hubungan/pacaran terikat, berduaan, bercumbuan, dan berorientasi pada seks, bersenang-senang yang telah melewati batas. Sedangkan cinta sejati menjalin pertemanan khusus (pacaran) tapi tidak terikat, komitmen menjaga/menghormati kekudusan, dan membangun hubungan yang saling memulihkan dan saling mendukung sesama.
Kita memerlukan sebuah ujian agar kita dapat membedakan antara cinta dan nafsu. Ujian itu ialah ujian kesabaran. Cinta dan nafsu akan teruji oleh waktu, sebab cinta sejati membutuhkan sebuah proses yang tidak singkat melainkan membutuhkan waktu yang cukup panjang dan itu membutuhkan kesabaran, sedangkan nafsu akan hilang atau pudar ketika nafsu itu telah dipuaskan dan telah terpenuhi keinginannya. 
Hari-hari ini saya sangat menyayangkan bahwa begitu banyak kaum muda yang telah tertipu oleh nafsu, dimana mereka memandang bahwa nafsu adalah juga cinta sejati. Sedih hati saya ketika melihat dan mendengar mereka mengatasnamakan cinta ketika itu sebenarnya adalah nafsu, mereka tidak menyadari bahwa nafsu akan berunjung pada malapetaka, karena nafsu itu akan membawa kita pada kekecewaan dan penderitaan.
Saya berpesan pada mereka yang telah, sedang atau akan jatuh cinta agar mencintai bukan dengan nafsu tetapi mencintai dengan cinta sejati yang berangkat dari hati yang tulus dan murni.  True love brings peace...


Rabu, 02 April 2014

Pelayanan PMK : Mengikuti Tradisi atau Melawan Zaman ?

Segala puji syukur kepada Allah, Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya. Tulisan ini saya buat bukan untuk pamer pengetahuan atau pemahaman saya tentang pelayanan mahasiswa, tapi saya menuliskannya karena kerinduan saya agar PMK kampus (khususnya PMK FKM Unhas tercinta.. hehehe) dapat mengalami sebuah perubahan yang lebih baik dan tidak mengalami stagnasi dalam pelayanan.
Perkembangan zaman saat ini bukan hanya membawa dampak positif namun juga dampak negatif. Tantangan dan kesulitan akibat dari perkembangan itu seringkali membuat orang tidak lagi bisa mempertahankan hidupya. Dan jika kita menyadarinya, maka hal ini bukan hanya dihadapi oleh orang-orang dunia tetapi juga anak-anak Tuhan. Bagi para mahasiswa Kristen, dunia bukan hanya tempat di mana mereka berada sekarang tapi dunia juga merupakan godaan dan ancaman bagi iman mereka. Dunia semakin mempercantik diri dengan menawarkan kenikmatan dan kepuasaan yang terlihat menyenangkan tapi ternyata pada akhirnya hanya semu. Miras, narkoba, free sex, dan segala bentuk hedonisme adalah bagian yang tidak terpisahkan dan menjadi daya tarik bagi jiwa muda mahasiswa. Sementara kehidupan di luar yang penuh dengan tantangan dan godaan, kehidupan mahasiswa Kristen di kampus disadari atau tidak masih kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi semua itu. Persekutuan  Mahasiwa Kristen (PMK) di kampus hanya sebagai tempat untuk berkumpulnya sebagian orang yang butuh teman dan juga mungkin supaya terlihat lebih rohani (Jujur saya pribadi ketika menjadi panitia dan pengurus dalam PMK, saya berpikir seperti itu juga). Sepertinya PMK hadir supaya orang lain dapat melihat bahwa mahasiswa Kristen pun punya kegiatan yang tidak kalah dengan kegiatan kampus yang lain, kegiatan-kegiatan besar diadakan (Bina Kasih, Natal, Ret-Ret Paskah, dsb) menjadi orientasi program pelayanan mahasiswa Kristen di kampus tanpa tahu tujuan yang sebenarnya ingin dicapai. Pada akhirnya, mahasiswa Kristen di kampus tetap hidup sama dengan mahaiswa yang lain, tidak menjadi garam atau terang bagi kampus dan lingkungan di mana mereka berada. Bahkan kita tidak pernah memikirkan bagaimana mempersiapkan mahasiswa Kristen untuk menghadapi dunia ketika mereka keluar dari kampus.  Oleh karena itu, PMK seharusnya mampu membuat program pembinaan atau pelayanan yang sesuai dengan kondisi zaman saat ini, agar setiap mahasiswa Kristen mampu untuk melawan dan bertahan terhadap tantangan dan godaan dunia.
Sejauh yang saya perhatikan selama saya menjadi anggota PMK, sampai sekarang program pembinaan/pelayanan yang dikerjakan cenderung sama dengan program-program yang ada sebelumnya (tradisi). Artinya, dari tahun ke tahun setiap pengurus hanya mengikuti program yang sudah ada, tanpa melihat kebutuhan yang sebenarnya diperlukan oleh mahasiswa Kristen. Semua kegiatan dan program yang dibuat oleh PMK memang harus mengacu pada visi misi PMK. Meskipun program yang selama ini ada sudah sesuai dengan visi misi PMK, akan tetapi kita perlu melakukan pembaruan agar program yang dibuat dapat sesuai dengan kebutuhan setiap anggota. Ketika program tidak sesuai dengan kondisi atau kebutuhan, saya percaya yang terjadi bukanlah sebuah kemajuan tetapi sebuah stagnasi atau bahkan kemunduran. Hal lain yang hampir selalu terjadi dalam setiap program adalah pengurus cenderung melihat keberhasilan program dari kuantitas dan bukan kualitas.
Di akhir tulisan ini, saya mau menunjukkan hasil survei saya (bukan surveinya Cak' Lontong. hehehe) yang menunjukkan bahwa ada 4 tipe mahasiswa Kristen di dalam kampus , yaitu :
  1. Kelompok mahasiswa Kristen yang mau ikut atau aktif penuh di PMK.
  2. Kelompok mahasiswa Kristen yang lebih memilih aktif di gereja atau di organisasi lain.
  3. Kelompok mahasiswa Kristen yang anti / menjauh dari PMK akibat sebelumnya ada kekecewaan.
  4. Kelompok mahasiswa Kristen yang menganggap PMK tidak bermanfaat, atau berpikir bahwa PMK akan mengganggu kuliah. 
Setelah melihat 4 tipe di atas, maka pengurus perlu memikirkan dan membuat program yang efektif untuk dapat menjangkau setiap tipe-tipe mahasiswa di atas, khususnya untuk tipe ke 3 dan ke 4. Setiap pengurus PMK harus bisa peka terhadap kondisi setiap anggotanya, sehingga apa yang menjadi kebutuhan mereka dapat dipenuhi dari setiap program yang dibuat (Filipi 2:3b-4).   Soli deo Gloria  :)




Daftar Pustaka:
Konsistensi dalam Pelayanan, 2011, Perkantas Jatim.