“Say No to Batu Sandungan”
Dalam hal apa pun
kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai
dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah
pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan,
kesesakan dan kesukaran,.. (2 Korintus 6:3-4)
Kehidupan
pelayanan persekutuan mahasiswa Kristen di dalam lingkungan kampus tidaklah
mudah, karena ada cukup banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan itu bisa
berasal dari luar lingkungan pelayanan atau bahkan dari dalam lingkungan
pelayanan itu sendiri, terlebih ketika kita menjadi kaum minoritas di dalam
kampus. Teman-teman sadar atau tidak, apa yang kita lakukan dalam pelayanan dan
bagaimana orang-orang di dalam pelayanan itu bertingkah laku, semuanya menjadi
bahan pengamatan orang-orang di dalam lingkungan kampus. Kita harus menyadari
bahwa setiap saat ada orang-orang yang meneropong kehidupan kita.
Dalam 2
Korintus 6:3-4 di atas, Rasul Paulus dalam pelayanannya memberikan nasihat
kepada kita bagaimana seharusnya sikap dan tingkah laku orang-orang dalam
pelayanan untuk kemuliaan Allah. Paulus menginginkan agar kita dapat
memperhatikan dan menganggap bahwa adalah sangat penting untuk menjaga diri
dalam melakukan pelayanan, supaya segala kasih karunia Allah yang diterima dan
semua berkat-berkat dalam pelayanan kita yang telah Dia curahkan jangan sampai
menjadi sia-sia. Sungguh tidak
ada gunanya pelayanan kita jika lewat diri kita orang bukannya mengenal Yesus
Kristus, tapi malah melalui pelayanan kita orang menjadi antipati, takut atau
bahkan alergi dengan pelayanan persekutuan mahasiswa Kristen. Dalam pelayanan
yang kita kerjakan, sikap ekslusif, sikap merasa diri paling benar, kesombongan
dan sebagainya bukanlah sikap baik yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan
dalam pelayanan. Mungkin sikap-sikap itulah yang ada di dalam diri kita yang
tanpa kita sadari menjadi batu-batu sandungan bagi orang lain.
Agar tidak
menjadi batu sandungan bagi orang lain, kita harus percaya bahwa hal pertama yang
perlu kita lakukan adalah membuang batu-batu sandungan yang ada di dalam diri
kita dengan cara terus menjaga hati kita. Dalam
Amsal 4 : 23, dikatakan bahwa “ Seperti
apa hati kita, seperti itu pula terpancar kehidupan kita ”. Dalam pelayanan
untuk kemuliaan Allah kita harus berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan
baik untuk orang-orang di dalam lingkungan pelayanan dan juga orang-orang di
luar lingkungan pelayanan.
Salah satu visi
pelayanan PMK kita adalah untuk menjadi terang,
dan sesungguhnya itulah yang dikehendaki Kristus dalam kehidupan kita. “ Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya
di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan
Bapamu yang disorga.” (Matius 5:16).
Menjadi terang atau tidak di dalam pelayanan akan terlihat dari bagaimana kita
hidup. Apakah kita hidup sesuai dengan firman-Nya dalam pelayanan kita ?, atau
malah menjadi batu sandungan bagi banyak orang ?...
Tidak ada gunanya
kita melayani, beribadah dan rajin meneriakkan nama Tuhan, jika tidak didukung
dengan perbuatan yang nyata dalam kehidupan kita. Setiap detik dari hidup kita
bisa menjadi kesaksian manis, atau sebaliknya bisa juga menjadi batu sandungan
bagi orang lain. Orang bisa mengenal Yesus atau malah menertawakan dan membenci
Yesus beserta pengikut-Nya lewat sikap, tingkah laku dan perbuatan yang kita
lakukan. Jadi adalah penting dan wajib bagi kita untuk menjaga sikap, tingkah
laku dan perbuatan kita dalam kehidupan pelayanan. SAY NO TO BATU SANDUNGAN….!!
Jesus touch all of us
Zefanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar