Jumat, 23 November 2012

say no to batu sandungan

say no to batu sandungan

“Say No to Batu Sandungan”
Dalam hal apa pun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,.. (2 Korintus 6:3-4)
Kehidupan pelayanan persekutuan mahasiswa Kristen di dalam lingkungan kampus tidaklah mudah, karena ada cukup banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan itu bisa berasal dari luar lingkungan pelayanan atau bahkan dari dalam lingkungan pelayanan itu sendiri, terlebih ketika kita menjadi kaum minoritas di dalam kampus. Teman-teman sadar atau tidak, apa yang kita lakukan dalam pelayanan dan bagaimana orang-orang di dalam pelayanan itu bertingkah laku, semuanya menjadi bahan pengamatan orang-orang di dalam lingkungan kampus. Kita harus menyadari bahwa setiap saat ada orang-orang yang meneropong kehidupan kita.
Dalam 2 Korintus 6:3-4 di atas, Rasul Paulus dalam pelayanannya memberikan nasihat kepada kita bagaimana seharusnya sikap dan tingkah laku orang-orang dalam pelayanan untuk kemuliaan Allah. Paulus menginginkan agar kita dapat memperhatikan dan menganggap bahwa adalah sangat penting untuk menjaga diri dalam melakukan pelayanan, supaya segala kasih karunia Allah yang diterima dan semua berkat-berkat dalam pelayanan kita yang telah Dia curahkan jangan sampai menjadi sia-sia.  Sungguh tidak ada gunanya pelayanan kita jika lewat diri kita orang bukannya mengenal Yesus Kristus, tapi malah melalui pelayanan kita orang menjadi antipati, takut atau bahkan alergi dengan pelayanan persekutuan mahasiswa Kristen. Dalam pelayanan yang kita kerjakan, sikap ekslusif, sikap merasa diri paling benar, kesombongan dan sebagainya bukanlah sikap baik yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan dalam pelayanan. Mungkin sikap-sikap itulah yang ada di dalam diri kita yang tanpa kita sadari menjadi batu-batu sandungan bagi orang lain.
Agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, kita harus percaya bahwa hal pertama yang perlu kita lakukan adalah membuang batu-batu sandungan yang ada di dalam diri kita dengan cara terus menjaga hati kita. Dalam  Amsal 4 : 23, dikatakan bahwa “ Seperti apa hati kita, seperti itu pula terpancar kehidupan kita ”. Dalam pelayanan untuk kemuliaan Allah kita harus berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan baik untuk orang-orang di dalam lingkungan pelayanan dan juga orang-orang di luar lingkungan pelayanan.
Salah satu visi pelayanan PMK kita adalah untuk menjadi terang, dan sesungguhnya itulah yang dikehendaki Kristus dalam kehidupan kita. “ Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang disorga.”  (Matius 5:16). Menjadi terang atau tidak di dalam pelayanan akan terlihat dari bagaimana kita hidup. Apakah kita hidup sesuai dengan firman-Nya dalam pelayanan kita ?, atau malah menjadi batu sandungan bagi banyak orang ?...
Tidak ada gunanya kita melayani, beribadah dan rajin meneriakkan nama Tuhan, jika tidak didukung dengan perbuatan yang nyata dalam kehidupan kita. Setiap detik dari hidup kita bisa menjadi kesaksian manis, atau sebaliknya bisa juga menjadi batu sandungan bagi orang lain. Orang bisa mengenal Yesus atau malah menertawakan dan membenci Yesus beserta pengikut-Nya lewat sikap, tingkah laku dan perbuatan yang kita lakukan. Jadi adalah penting dan wajib bagi kita untuk menjaga sikap, tingkah laku dan perbuatan kita dalam kehidupan pelayanan.  SAY NO TO BATU SANDUNGAN….!!
Jesus touch all of us
Zefanya

kasih yang berkorban

Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, "Bu, aku mengasihimu!" Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!" Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut. Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi." Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini." Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos." Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan." Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan. Pesan Moral: Seringkali kita berkata kepada seseorang kalau kita mengasihi mereka. Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orangtua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orangtua dan sesama, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus. *

Kamis, 22 November 2012

Zefanya Golo: Penyembahan Terbaik

Zefanya Golo: Penyembahan Terbaik: Penyembahan yang terbaik adalah bukti dari rasa hormat dan kasih kita kepada Allah (Maleakhi 1:6-14)

Zefanya Golo: Penyembahan Terbaik

Zefanya Golo: Penyembahan Terbaik: Penyembahan yang terbaik adalah bukti dari rasa hormat dan kasih kita kepada Allah (Maleakhi 1:6-14)

Penyembahan Terbaik

Penyembahan yang terbaik adalah bukti dari rasa hormat dan kasih kita kepada Allah (Maleakhi 1:6-14)