Senin, 24 Desember 2012
Sejarah Rekam Medis
SEJARAH REKAM MEDIS
Rekam medis sebagai catatan dan ingatan tentang praktek kedokteran telah dikenal orang sejak zaman palaelolitikum 25.000 Sebelum Masehi yang ditemukan di gua batu Spayol. Di Zaman Babylon, pengobatan di Mesir, Yunani dan Roma menulis pengobatan dan pembedahan yang penting pada dinding-dinding gua, batang kayu dan bagan tabel yang dibuat dari tanah liat yang dibakar. Selanjutnya dengan berkembangnya Hieroglyph (tulisan mesir kuno) ditemukan catatan pengobatan pada dinding makam dan candi Mesir serta diatas papyrus (semacam gulungan kertas yang terbuat dari kulit). Salinan papyrus yang ditulis pada tahun 1600 SM yang ditemukan oleh Edwin Smith pada abad ke 19 di mesir masih tersimpan di New York Academy Of Medicine. Sedangkan di University Of Leipzig menyimpan papyrus ebers yang ditulis pada 1550 SM yang ditemukan diantara kaki mumi didekat Thebes pada tahun 1872.
Hippocrates yang lahir pada tahun 450 SM dikenal sebagai “ Bapak Ilmu Kedokteran “ memerintahkan kepada murid-muridnya Thesalu, Dracon dan Dexippus untuk mencatat dan memelihara semua penemuannya tentang penyakit pasien-pasiennya secara rinci. Francis adams pada tahun 1849 menerjemahkan catatan yang ditulis oleh HippocrateS, salah satunya adalah riwayat dan perjalanan penyakit istri Philinus setelah melahirkan sampai meninggal. Di Roma, 600 tahun sesudah Hippocrates, seorang dokter bernama Galen mencatat riwayat dan perjalanan penyakit pasien yang ditulis dalam bahasa latin. Selanjutnya oleh Ibnu Sina (980-1037), mengembangkan ilmu kedokteran tersebut berdasarkan catatan- catatan jaman Hippocrates.
Rumah sakit St Bartholomew London, Inggris, merupakan rumah sakit yang menyimpan rekam medis sejak dibuka pada tahun 1137. pada saat Raja Henry ke 8 (1509-1547) berkuasa, rumah sakit tersebut membuat peraturan tentang menjaga kerahasiaan dan kelengkapan isi rekam medis. Pada jaman ini perkembangaan ilmu kedokteran semakin pesat seiring dengan itu diikuti pula pencatatan kedalam rekam medis yang digunakan untuk pengelolaan pasien dan perkembangan ilmu. Inilah rumah sakit pertama yang mempunyai perpustakaan kedokteran yang kini catatan medis tersebut dapat disamakan dengan rekam medis.
Selanjutnya dengan mulai dikenalnya ilmu statistic pada abad 17-18 peranan data rekam medis menjadi sangat penting untuk meghitung angka kesakitan dan kematian di rumah sakit tertentu atau pada wilayah tertentu. Di Amerika, Rumah Sakit Penzylvania yang didirikan pada tahun 1752 menyimpan indeks pasien yang disimpan sampai sekarang. Sedangkan Rumah Sakit Massachusete, Boston, oleh pustakawan Grace Whiiting Meyers (1859-1957) mulai membuat catalog catatan-catatan rekam medis pasien dan menggunakan Terminology Medis (istilah-istilah kedokteran).
Kebutuhan tentang perlunya rekam medis diseluruh dunia pada awal abad 20 semakin berkembang dengan adanya akreditasi pelayanan kesehatan yang mendorong didirikannya asosiasi-asosiasi perekam medis di setiap Negara. Akreditasi pelayanan kesehatan dilakukan berdasarkan bukti-bukti tertulis proses pelayanan kesehatan dan administrasi untuk dinilai. Pencatatan data ke dalam rekam medis dan pengelolaannya diperlukan ilmu dan keahlian. Oleh karena itu para perekam medis mendirikan asosiasi-asosiasi (perhimpunan) perekam medis disetiap Negara di dunia ini. Misalnya di Amerika didirikan AHIMA (American health information management association) dan perhimpunan di dunia menyatu dalam IFHRO (international health record organization), sedangkan di Indonesia bernama PORMIKI (perhimpunan organisasi profesianal perekam medis dan informasi kesehatan indonesia).
Jumat, 23 November 2012
say no to batu sandungan
say no to batu sandungan
“Say No to Batu Sandungan”
Dalam hal apa pun
kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai
dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah
pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan,
kesesakan dan kesukaran,.. (2 Korintus 6:3-4)
Kehidupan
pelayanan persekutuan mahasiswa Kristen di dalam lingkungan kampus tidaklah
mudah, karena ada cukup banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan itu bisa
berasal dari luar lingkungan pelayanan atau bahkan dari dalam lingkungan
pelayanan itu sendiri, terlebih ketika kita menjadi kaum minoritas di dalam
kampus. Teman-teman sadar atau tidak, apa yang kita lakukan dalam pelayanan dan
bagaimana orang-orang di dalam pelayanan itu bertingkah laku, semuanya menjadi
bahan pengamatan orang-orang di dalam lingkungan kampus. Kita harus menyadari
bahwa setiap saat ada orang-orang yang meneropong kehidupan kita.
Dalam 2
Korintus 6:3-4 di atas, Rasul Paulus dalam pelayanannya memberikan nasihat
kepada kita bagaimana seharusnya sikap dan tingkah laku orang-orang dalam
pelayanan untuk kemuliaan Allah. Paulus menginginkan agar kita dapat
memperhatikan dan menganggap bahwa adalah sangat penting untuk menjaga diri
dalam melakukan pelayanan, supaya segala kasih karunia Allah yang diterima dan
semua berkat-berkat dalam pelayanan kita yang telah Dia curahkan jangan sampai
menjadi sia-sia. Sungguh tidak
ada gunanya pelayanan kita jika lewat diri kita orang bukannya mengenal Yesus
Kristus, tapi malah melalui pelayanan kita orang menjadi antipati, takut atau
bahkan alergi dengan pelayanan persekutuan mahasiswa Kristen. Dalam pelayanan
yang kita kerjakan, sikap ekslusif, sikap merasa diri paling benar, kesombongan
dan sebagainya bukanlah sikap baik yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan
dalam pelayanan. Mungkin sikap-sikap itulah yang ada di dalam diri kita yang
tanpa kita sadari menjadi batu-batu sandungan bagi orang lain.
Agar tidak
menjadi batu sandungan bagi orang lain, kita harus percaya bahwa hal pertama yang
perlu kita lakukan adalah membuang batu-batu sandungan yang ada di dalam diri
kita dengan cara terus menjaga hati kita. Dalam
Amsal 4 : 23, dikatakan bahwa “ Seperti
apa hati kita, seperti itu pula terpancar kehidupan kita ”. Dalam pelayanan
untuk kemuliaan Allah kita harus berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan
baik untuk orang-orang di dalam lingkungan pelayanan dan juga orang-orang di
luar lingkungan pelayanan.
Salah satu visi
pelayanan PMK kita adalah untuk menjadi terang,
dan sesungguhnya itulah yang dikehendaki Kristus dalam kehidupan kita. “ Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya
di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan
Bapamu yang disorga.” (Matius 5:16).
Menjadi terang atau tidak di dalam pelayanan akan terlihat dari bagaimana kita
hidup. Apakah kita hidup sesuai dengan firman-Nya dalam pelayanan kita ?, atau
malah menjadi batu sandungan bagi banyak orang ?...
Tidak ada gunanya
kita melayani, beribadah dan rajin meneriakkan nama Tuhan, jika tidak didukung
dengan perbuatan yang nyata dalam kehidupan kita. Setiap detik dari hidup kita
bisa menjadi kesaksian manis, atau sebaliknya bisa juga menjadi batu sandungan
bagi orang lain. Orang bisa mengenal Yesus atau malah menertawakan dan membenci
Yesus beserta pengikut-Nya lewat sikap, tingkah laku dan perbuatan yang kita
lakukan. Jadi adalah penting dan wajib bagi kita untuk menjaga sikap, tingkah
laku dan perbuatan kita dalam kehidupan pelayanan. SAY NO TO BATU SANDUNGAN….!!
Jesus touch all of us
Zefanya
kasih yang berkorban
Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, "Bu, aku mengasihimu!" Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"
Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing.
Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.
Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi." Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."
Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos." Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan." Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.
Pesan Moral: Seringkali kita berkata kepada seseorang kalau kita mengasihi mereka. Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orangtua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orangtua dan sesama, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus. *
Kamis, 22 November 2012
Zefanya Golo: Penyembahan Terbaik
Zefanya Golo: Penyembahan Terbaik: Penyembahan yang terbaik adalah bukti dari rasa hormat dan kasih kita kepada Allah (Maleakhi 1:6-14)
Zefanya Golo: Penyembahan Terbaik
Zefanya Golo: Penyembahan Terbaik: Penyembahan yang terbaik adalah bukti dari rasa hormat dan kasih kita kepada Allah (Maleakhi 1:6-14)
Penyembahan Terbaik
Penyembahan yang terbaik adalah bukti dari rasa hormat dan kasih kita kepada Allah (Maleakhi 1:6-14)
Langganan:
Komentar (Atom)